Siapa Daku

Dengarlah kisah ini
Wahai putraku tercinta
Walaupun kau sekarang tak melihatku,
Bahkan tak mengenalku
Tetapi aku ada…

Dan kau mendengar suara jiwaku.
Dengan telinga lubuk hatimu
Sejak ratusan, bahkan lebih dari seribu tahun yang lalu
Aku berdiri gagah memayungi moyangmu.
Mempersatukan mereka…

Mereka memang moyang teladan
Murni di jalan kemurian
Gagah berjuang menegakkan kebenaran
Hidup jaya atau mati mulia …
Dan akulah pemersatu dan pemayung mereka

Aku bangga sekali melihat kegagahan mereka
Memukul hancur benteng – benteng kebatilan
Menyelamatkan manusia dari kehancuran
Aku masih ingat ketika umbul – umbul salib runtuh di genangan darah kaum Musyrikin
Sampai pada zaman yang tak kusangka akan pernah ada
Di mana pewaris mereka mulai meninggalkan kemurnian.

Sakit dan sedih hatiku …!
Tapi aku tak berdaya
Para penghianat dan kaum munafik berkembang biak di sekelilingku
Akibat tertanggalnya kemurnian.
Putra sejati dan para lintah berbaur samar di mataku.

Aku menjerit keras
Cepat kembali
Bila tidak kalian akan hancur
Tapi suaraku lenyap di telan kegelapan zaman …

Akhirnya, apa yang sejak semula kutakuti pun mulai Nampak,
Mereka melemah dan diriku pun mulai merapuh
Aku tak sanggup lagi mencegah keretakan mereka dan kerapuhan diriku sendiri
Karena aku hanya bisa bertugas di alam kemurnian

Para lintah itu melata di sekujur tubuhku
Dan menghisap darahku!
Sekali lagi aku menjerit hampa…
Tapi tiada guna

Para penyembah salib mulai mendekati pintu gerbang rumahku
Mereka mulai masuk..ya, mereka mulai masuk!
Umbul – umbul yang kubenci selama ini ditancapkan di halamanku!
Ouh … aku tak kuasa melihatnya!
Mereka mulai memotong – motong jemari kakiku!

Ouh … pedih sekali..!
Darah mengalir di mana – mana!
Jerita muslimah dipermalukan dan balita yang terkoyak dadanya membuat tubuhku berguncang keras!

Ouh … mereka para penyembah salib mulai memotong – motong tubuhku dan memisahkannya
Akupun roboh tak berdaya
Tapi aku belum mati
Aku tertawan dan terkuburkan di bawah debu zaman
Aku tak sudi merintih sakit
Tapi aku tak tahan melihat penderitaan umat kekasihku ini

Dari bawah debu zaman
Dengan tubuh terpisah – pisah
Dan tangan terikat kuat
Aku masih bisa mendengar jeritan mereka
Jeritan ummat kebenaran, kekasihku

Aku menunggu dan aku terus menunggu
Aku tak mungkin bangun kembali sebelum putra – putra sejatiku membangunkanku
Mereka yang bertekad berjuang
Dan meniti jalan kemurnian leluhur yang murni

Di mana kalian?!
Mengapai sampai sekarang aku belum melihat kalian?!
Tetapi akupun merasa kalian tak jauh dariku
Bangunkan aku!!
Cukup seratus tahun dalam tawanan di bawah debu zaman nan kelam

Kalian kan jaya setelah aku bangun!
Jangan putus asa, aku sudah mendapat janji tu’ bangun kembali
Tiada jawaban?
Tiada suara yang kudengar selain jeritan
Apakah kalian masih tertidur nyenyak?
Ataukah jeritan – jeritan itu menutupi suara kalian?!
Entahlah…?!
Tapi akukan tetap menunggu dan menunggu ..

Comments

Popular Posts